Pengalaman Kerja Sopir

Montir

Sudah menjadi hobi saya dari kecil bermain mobil, hingga rasanya ingin bisa mengendarai mobil, truk, dan bus. Itu keinginan saya dari kecil, duduk dikelas Smp saya dipesanten. Satu bulan sekali pulang. Setiap pagi siang dan sore. Tangan saya tidak lepas dari stang mobil. Tidak ada niatan saya untuk menjadi sebagai kerja sopir truk

Izin kepada orang tua tidak pernah di izinin untuk belajar montir, karena memang waktu itu saya masih berumur sangat muda. Baru duduk dibangku kelas 2 smp. Namun karena saya sudah kekeh pengen sekali belajar montir, maka setiap pulang ke rumah, saya selalu belajar sendiri tanpa panduan.

Awalnya Orang Tua memarahi, tapi bandel nya saya karena tiap pulang menyoba memainkan mobil, mungkin karena Orang Tua capek mengingatkan. Saya dibiarkan belajar tanpa bimbingan. Tidak ada rasa bosan nya belajar sendiri dari pertama, dari begaimana cara menghidupkan mobil.

Jalan satu tahun, saya kelas 3 smp dan berjalan menuju kelas 1 sma. Akhirnya saya bisa menggunakan nya jarak dekat. Tiap pagi saya hidupkan, saya mencoba sendiri maju dan mundur meskipun cuman jarak kurang lebih 10 meter. Tepat pada saat liburan, saya beranikan untuk keluar ke jalan raya. Dengan tanpa izin Orang Tua.

Laka Lantas

www.pexels.com

Karena sangking ingin nya saya dapat menyupir, saya berani kan saat itu keluar ke jalan raya untuk memastikan apakah saya bisa menyupir dengan lancar. Pelan-pelan saya kemudi. Akhirnya rasa takut saya keluar juga. Sampai di perempatan jalan Mantung Sukoharjo. Saya bertemu dengan sebuah truk yang tiba-tiba keluar dari sebuah kampung.

Lanjut cerita, saya kaget dan khawatir. Semua rasa bingung jadi satu. Disitu juga mobilnya saya mati dikarenakan kepanikan saya. Karena pada saat itu kondisi jalan sangat ramai, saya hidupkan mobil saya, dan saya persilahkan truk tersebut membelok dan melaju kelawan arah. Pada saat itu, ntah kenapa tiba-tiba saya menginjak gas sedikit tapi posisi saya tidak membelok kan ke kiri sedikit.

Terkenalah bodi depan saya dengan bodi belakang truk, truk nya aman tidak ada kendala, tapi mobil saya licet baret sedikit namun jelas. Setelah itu saya pelan-pelan jalan dengan berlumuran keringat dingin karena panik.

Saya berhenti di indomaret, saya tenangkan diri saya dulu dan memikirkan alasan apa yang pantas nanti saya keluarkan ketika Orang Tua tau bekas baret di mobil. Namun saya tegaskan untuk jujur, sesampai dirumah, saya cerita kan semuanya.

Mungkin rezeki saya pada saat itu, Orang Tua tidak marah, malah sebaliknya. Beliau memberi motivasi untuk lebih berhati-hati. Dari kejadian tersebut, saya merasakan senang. Otak saya serasa terbuka lebar, nalar saya untuk meyupir harus begini, dan begitu jadi luas dan jelas.

Mulai saat itu sampai sekarang Alhamdulillah saya aman terkendali. Dan memulai memakai sim ketika umur 18 Tahun. Sim A dan sim C, rencana taun ini ingin menaik kan kelas sim menjadi sim B.

Antar kota, Antar Provinsi

ahmadelhaq.com

Sejak saya dapat meyupir dengan lancar. Saya Sma di Jakarta timur, dekat dengan kantor kerja Bapak saya, yaitu di Klender Jakarta Timut. Setiap minggu saya libur, kadang satu bulan 2 kali jenguk Bapak dan bantu kerjaanya yang dapat saya bantu. Termasuk untuk mengambil percetakan yang banyak, jadi pakai mobil untuk mengambil.

Bapak saya di kantor, saya yang membantu mengambil percetakan nya. Berjalan rutin sampai saya selesei 11 bulan di pesanten nadi Jakarta Timur. Setiap liburan, saya pulang ke Solo bersama Bapak saya. Pertamanya Bapak juga masih takut, tapi saya memaksa biar saya yang membawa mobil.

Waktu demi waktu saya menyupir dengan penuh hati-hati dan memerhatikan supaya ketika saya mobil, penumpang saya merasa aman dan nyaman. Ini sangat saya perhatikan. Untuk membawa mobil saya terjauh Solo-Jakarta, masih bisa terhitung sih, tapi bagi saya. Ini pengalaman terkesan selama hidup saya. Masih kecil tapi memberani kan membawa mobil dengan jarak jauh.

Seingat saya untuk perjalanan Solo-Jakarta, sekitar 15 kalian. Diantaranya karena ada perlu, mengantarkan keluarga, mudik, mengambil mobil. Untuk perjalanan ke arah Jawa Timur, 10 kali yang saya ingat. Kesana untuk menjenguk adik saya yang ada dipesantren, da nada beberapa kali untuk bermain.

Kerja Keras

www.pexels.com

Mungkin banyak yang kaget dengan kerjaan saya setelah pulang dari tangerang. Saya awalnya mau di biayain dari pihak pesantren untuk kuliah di Jakarta Timur, namun saya tidak mengambil peluang tersebut. Dengan alasan saya ingin kuliah di Solo supaya dekat dengan Orang Tua.

Namun ntah mengapa dan apa yang membuat saya tidak cepat bergegas untuk mengambil jalan kuliah saya. Berlarut hari demi hari tanpa saya sadari sudah berjalan 2 bulan dan pendaftaran untuk kuliah sudah tutup. Akhirnya saya nganggur selama itu.

Ada rasa tidak enak sama keluarga saya. Kerjaan saya hanya makan tidur main handphone. Sungguh sangat membosankan, kemudian saya berfikir bagaimana menunggu pembukaan pendaftaran ini saya gunakan untuk berkerja apa saja yang penting halal.

Disaat itu saya seminggu bingung mencari kerjaan, akhirnya dibeberapa hari kemudian. Saya membuka facebook, saya browsing lah di info loker solo raya. Niat pertama saya mau cari kerjaan menyupir, Alhamdulillah saat itu juga saya mendapati loker sebagai sopir took besi dan bahan bangunan.

Siang hari itu saya lamar kerjaan dan langsung interview. Pertama datang, saya sempat kaget soalnya bos saya orang china. Saya langsung mikir gimana nanti dengan ibadah saya?. Saya sampaikan setelah interview, “ koh, saya seorang islam, saya meminta kelonggaran nya disaat waktu jam sholat, saya izin untuk sholat bisa apa tidak?”. Kokoh menjawab: “ oh iya, tidak mengapa, sangat boleh”.

Karena bos nya saya rasa orang nya gampang, dan tidak susah orangnya. Keesokan harinya saya langsung disuruh datang dan kerja sebagai sopir truk dan mobil pick-up. Bekerjalah saya disitu selama 9 bulan, sempat terfikirkan oleh saya, bagaimana dengan hafalan dna ilmu saya di pesantren?. Saya sering merenungkan hal itu. Saya tidak pernah berfikir menjadi seorang sopir bangunan. Tapi kehendak Allah seperti ini, saya jalanin dengan senang hati, sambil menunggu untuk masuk kuliah.

Di penghujung waktu, saya beda pemikiran setelah mengetahui sintesa ini dari teman saya yang sukses setelah belajar selama 1 tahun di sintesa.

Jam Kerja

www.pexels.com

Selama 9 bulan saya kerja menjadi sopir, sangat banyak hal yang saya tau. Saya juga tidak menyesal atau merasa hina ketika saya kerja sebagai sopir truk dan pick-up. Setiap hari yang saya lakukan dirumah selama kerja. Bangun tidur sholat shubuh berjamaah, kemudian mengikuti kajian rutin disetiap pagi hari mulai dari jam 05:15 sampai jam 06:00.

Saya diwajibkan orang tua untuk kajian ini, guna sebagai tambahan ilmu saya. Karena setiap hari kerja tanpa ada penasehat hati kita. Saya turutin kemauan orang tua dan dari saya pun juga mau untuk mengikuti kajian tiap hari tiap pagi.

Sepulang dari kajian, biasa saya membantu membersihkan rumah selesei jam 07:00. Kemudian makan mandi. Jam 07:50 saya berangkat kerja, 10 menit tempat kerja dengan rumah. Karena memang dekat, jam 12 istirahat, lanjut kerja lagi sampai jam 16:30 sore.

Terkadang bisa lebih dari jam 16:30 dikarenakan ada kiriman barang semen, pasir atau batako ke proyek-proyek yang belum selesei. Selama megikuti lemburan kerja, paling malam saya kerja sampai jam 7 malam. Pastinya dengan upah yang berbeda juga.

Pulang kerja kalau tidak lemburan, biasanya sampai rumah bersih-bersih. Dan persiapan sholat maghrib, untuk imam sholat maghrib dan isya, banyak yang menyuruh saya untuk imam. Seperti itulah kegiatan saya.

Khusus untuk malam minggu, biasanya saya jam 21:00 izin ke orang tua untuk keluar malam, untuk acara kumpul motor. Kebetulan saya mengikuti club motor ninja solo raya (NSR). Orang tua mengizini sampai jam 11 paling malam, dengan syarat tidak mengikuti suatu maksiat ketika kumpul  motor.

2 Comments

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *