Jeritan Di Malam Hari (part1)

https://pixabay.com

Permulaan

Assalaamualaikum, selamat datang dan selamat untuk membaca pengalaman saya yang cukup meneganggkan untuk saya, perkenalakan saya Ahmad Elhaq, saya salah satu dari murid yang dulu pernah bersekolah di Pondok Pesantren Darul Falah Sragen, saya disini akan menceritakan sebuah kisah ketika saya dipondok pas saat saya duduk dibangku kelas 2 tsanawiyah atau 2 SMP.

Pada malam jumat, biasa di pesantren saya ada kegiatan bela diri atau yang biasa disebut silat, nah pada saat malam itu juga, kami tidak mengetahui jikalau akan ada jerit malam atau lebih mudah disebut uji nyali.

Tepat pada musim hujan saat itu, yang seharusnya kita diliburkan namun menjadi wajib menghadirinya, dan didepan pondok ada beberapa mobil TNI pada saat itu, jadilah diantara saya dan teman teman timbul pertanyaan, ada apa? Tumben malam-malam tepat jam 9 ada beberapa mobil TNI yang parker didepan masjid pondok,

Lanjut cerita, kita merasa was-was, dipikiran saya hanya khawatir. Karena saya hanya mengira ada apa apa pondok saya ini. Hanya rasa takut yang saya rasakan dan teman-teman rasakan pada saat itu, setelah beberapa menit kemudian, cerita lanjut dibawah ya.

Pengumpulan

 

Setelah beberapa menit kemudian, kita dipanggil untuk berkumpul dilapangan biasa kita latihan, wajarlah yah, masa anak laki-laki pesantren tidak bisa melakukan silat atau bela diri, yah apalagi nanti yang akan kita gunakan untuk menyelamatkan dan menjaga keluarga kita, teman, saudara, dan kerabat kita nanti?

Dipanggil lah semua murid kumpul dilapangan dengan harus berbasah-basahan yang sangat kuyup, karena saat itu hujan benar benar deras banget disertai angin dan petir. Dengan izin Allah kita bisa melakukan nya. Satu persatu diabsen untuk dijumlah kehadiran santri yang mengikuti latian ini.

Dari sekian ratus santri, hanya kelas 2 tsanawiy sampe kelas 3 SMA, terbilang sedikit , karena yang kumpul dan mau mengikuti acara ini hanya kisaran 70an orang saja. Syukur meskipun sedikit anggota, acara berlanjut dengan dimulai pembukaan basmallah dan acara selanjutnya yang belum kita ketahui sebelumnya.

Refleksi/Pemanasan

https://www.pexels.com

Setelah terkumpul sekian orang, disitu baru di umumkan kalo acara malem itu adalah jerit malam, ya gitulah, saya pun kaget mendengar gertakan keras komando dari anggota TNI, apalagi ditambah dengan muka seram nya, disertai suara dan mempunyai postur tubuh gagah dan tinggi, saya apalah yang masih anak SMP, bisanya cuman takut dan nurut aja pada saat itu,

Kemudian berbarislah kita, dan melakukan pemanasan tubuh, supaya tidak kram kemudian disampaikan peraturan dan apa saja yang harus dita’ati ketika acara dimulai, dan setelah itu di pandu oleh komando, untuk  pemanasan dari ujung kepala sampai ujung kaki, pemanasan kira kira 15 menitan, setelah itu kami di perintah agar baris urut satu persatu untuk ke dapur, mengambil arang yang sudah diberi air, lalu dikenakan dimuka, sampai rata semua mempunyai muka baru, yang tadi nya putih menjadi hitam, yang tadi nya bisa kenal, jadi serasa bingung, setalah itu komandan memerintah untuk berbaris dan menuju ke sawah.

Karena memang lokasi pesantren saya dulu ditengah-tengah sawah dan jauh dari perkotaan, kanan kiri penuh sawah dan sungai kecil, yang digunakan untuk mengairi sawah warga. Sesampai kita disawah, komandan berkata “ lepas semua baju kalian. Kemudian talikan ke kepala kalian!!! “, serentak, kita tidak banyak omong dan alasan. Karena memang jika ada suara, spontan kita dipukul.

Menurut saya pribadi, ini pengalaman yang sangat menegangkan buat saya, semua rasa campur aduk dari rasa takut, cemas, bingung. Namun ntah mengapa kita nurut saja pada saat itu, hehehe… kalo ingat rasanya pengen sekali untuk terulang lagi. Lanjut cerita…

Eksekusi

Setelah sesampainya kita di sawah, kita  di bagi menjadi 2 kelompok. Kelompok pertama disebelah utara dan kelompok ke 2 disebelah selatan. Diantara kelompok kita sama sama mendapatkan perlakuan fisik yang sangat keras.

Dari perintah pertama, yaitu tiarap, dan berjalan dengan melata seperti ular kira-kira jarak kita melata tanpa busana baju, kurang lebih 100meter an. Setelah itu kita putar balik dengan merangkak, sambil mendengar  instruksi dari komando. Jika kita disuruh merayap yah kita langsung, saya 2 kali karena tidak cepat merayap setelah mendengar perintah merayap. Mending yah dipukul pake kayu biasa atau sapu, nah ini saya dipukul dengan rotan sampe 2hari kemudian masih merah dan lebam, cuman ya seru saja meskipun sakit “hahaha”.

Kira kira 30 menit-an lah kita kita menjalani perlakuan fisik, kemudian kita semua di perintah supaya menutup mata dengan baju kita tadi, supaya tidak bisa melihat depan, setelah itu kita jongkok dan saling memegang pundak teman kita/ pundak teman yang ada didepan kita.

Kemudian berjalan jongkok kurang lebih 20meter, ternyata kita di arahkan di sungai kecil yang sangar deras aliran airnya. Udah tuh pas saat itu juga ada banyak yang kelepas dengan bahu teman. Namun tetep bisa terkondisikan, rasanya yang sangat menakutkan. Mata tidak dapat melihat, jalan jongkok tanpa baju, masuk sungai tiba-tiba.

Setelah itu…

Rintangan

https://pixabay.com

Setelah melakukan perlakuan fisik, semua dibariskan. Dan diberi tau komandan “ acara malam in, kalian akan di uji mental kalian, satu persatu akan berjalan menuju kuburan”, disitu kita di terangkan apa saja nanti yang akan kita lakukan ketika sudah dimulai.

  1. Yang pertama antara jarak kita berjalan menuju kuburan selisih 3menit per orang,
  2. Semua santri wajib mengikuti tanda petunjuk arah ber warna merah yang sudah disediakan.
  3. Jika bertemu seseorang dan ditanya, ‘ kalian mau mengaku atau tidak terserah kalian, tapi ingat diantara itu kalian harus pilih yang benar. Saya tidak begitu faham dengan perintah ke 3 ini. Namun faham ketika selesei acara.
  4. Jika bertemu pocong atau sesuatu disana nanti, teriak lah pocong supaya dia tidak mengejarmu.
  5. Melewati sungai kuburan.
  6. Tidak boleh menunggu teman kita, yang antrian nya sebelum kita. Atau berencana menunggu didepan nanti.
  7. Tanda tangan di peti paling ujung pojok kuburan, bertanda payung dan lilin.

Setelah semua syarat dan peraturan tersebut disebut, satu persatu dipanggil maju dan berjalan dengan dipandu doa sebelum berjalan.

Pas deh digiliran saya, ingat saya urutan ke 18 nama saya disebut, bismillah doa dan saya berjalan sendiri, merinding biasa kemdian setelah sampe dengan perkebunan, setau saya kebun ini jalan nya curam dan tidak bisa digunakan, karena memang seperti jurang, yaudah karena tanda jalan menuju ke arah situ, saya jalanin dengan rasa benar benar takut dan merinding ga karuan, malam-malam hujan deras, sendirian berjalan.

Pelan pelan turun kejurang, karena takut dan merinding gemetaran, saya terpeleset dan teriak, berenti karena ada potongan pohon, saya pegang dan bergegas berdiri, setelah itu jalan naik ke arah sungai pertama, disitu saya di berhentikan 2 orang bapak-bapak badan nya tinggi, membawa alat ntah apa yang ditaruh di pundaknya,

Bertanyalah ke dua nya kepada saya, “ kamu ngapain kesini? Ada perlu apa?”, saya jawab : “ mau ke kuburan, karena disuruh atasan saya”. Kemudian bertanya kembali bapak-bapak tadi: “ kenapa mau kekuburan? Siapa atasan kamu? Kamu belum izin memasuki kawasan sini!!!” , gertakan kerasnya ke saya, saya jawab dengan takut dan panic gemetaran semua tubuh saya,. : “ saya ada acara jerit malam, atasan saya, saya tidak kenal. Saya hanya dimentaati, dan maaf pak saya kalo saya tidak sopan dan langsung masuk tanpa izin”.

Kemudian setelah berbincang cemas, saya diperbolehkan jalan dan menyebrangi sungai, tepat pas saya mau naik ke atas dari sungai, ada suara seperti orang, saya teriak pocong!!! . benar ternyata dibawah ada orang hendak menarik kaki saya, saya langsung naik dan lari ke atas ke arah sawah atas, disitu jalan kira-kira 1 kilometer (KM).

Banyak jalan yang tidak beraturan, saat saya ditengah perjalanan saya menemui orang berdiri di tengah-tengah sawah memakai pakaian putih, dan memanggil saya :” nak, mau kemana? Saya ikut”. Sambil melambaikan tangan nya, saya langsung teriak pocong!!! Dan bergegas lari, yang saya bikin panic banget, dia mengejar saya, rasanya sangat lemas dan tak berdaya sama sekali, kejar-kejar an disitu.

Namun setelah itu, dia menghilang dan tidak kembali sunyi dan hanya hujan deras dna petir yang menemani saya pada saat itu, hanya mengucap tasbih, takbir, dan tahlil pada saat itu.

Berjalan sendiri hingga sampe ujung sawah ada sungai kuburan. Nah, di situ ada pohon beringin tepat diujung dan di situ juga tepat kita turun ke sungai, saya turun pelan-pelan. Tidak saya sadari kalo didepan saya ada poconga yang turun dari atas, saya hampir tidak kuat, hampir lemas tidak bisa jalan sama sekali.

Namun saya paksa teriak pocong!!!, dan saya menyebrangi sungai tersebut loncat dan berenang nepi. Langsung naik ke atas, kira kira 500 meter, baru saya sampai di pintu kuburan. Eiiiit,,, tapi sebelum sampai di pintu depan, saya setelah jalan turun arah kuburan tiba tiba muncul orang berbaju hitam rambut panjang, dan melata didepan saya, padahal pada saat itu jalan nya sangat sempit dan kecil, sedangkan dia melentang dan melata menuju ke arah saya, saya pun teriak pocong!!! Dia terdiam. Dan setelah itu saya melewati orang tersebut, orang tadi menarik kaki saya. Saya kaget dan teriak : lepas!!! Dan saya terjatuh berguling-guling, karena memang jalan dari sungai ke arah kuburan menurun.

Saya terbangun dan berlari, sesampai didepan kuburan. Lanjut cerita ada dibawah hehe.

Memasuki tempat peristirahatan mayat

Sesampai didepan pintu masuk makam, saya ber doa seperti yang nabi ajarakan jika masuk kuburan. Saya masuk pelan-pelan, terlihat jelas ada putih-putih berjumlah 4, saya sudah mengira mungkin itu pocong. Saya berjalan tidak melihat depan saya, tapi melihat pocong tersebut. Karena mungkin yang merencanakan orang ahli, saya baru berjalan beberapa langkah, saya terperosok didalam liang lahat yang sudah tergali dan dipenuhi air hujan.

Saya terperosok kedalam, ingin sekali saya teriak tapi tidak bisa, karena panik masuk ke dalam dan melihat pocong tadi jatuh dan berguling ke arah saya. Yah dengan dipaksa saya naik dengan susah payah. Setelah saya bisa naik ke atas, saya lari kea rah ujung kuburan dan mencari kertas bolpen yang ditaruh dipeti yang terpayung i yang di tandai dengan lilin.

Senang rasanya setelah melewati beberapa rintangan, akhirnya saya menemukan peti tersebut. Saya isi sesuai perintah atasan saya untuk tanda tangan dan tulis nama. Saya lihat disitu, dari 18 orang yang berjalan ke kuburan, hanya 14orang yang berhasil menulis dan tanda tangan.

Sedang di awal sudah jelas satu persatu jalan, mungkin ada yang lari ke asrama dan tidak mengikuti. Kemudian saya keluar dari kuburan dan berlari kira-kira 500-an meter ke arah titik berkumpul pada awal. Dan menunggu teman lainya yang sedang diperjanan.

Seleseilah acara tersebut kira-kira jam 2an malam, kemudian dikumpulkan dan beranjak balik ke lapangan asrama.

Makan-makan dan Penutup

Sesampainya di lapangan asrama, didata yang lulus tes jurit malam hanya 57 orang dari 70 an orang santri. Sebagai hadiah nya kita diberi makanan, makanan khas pedesaan dan sebenernya makana tersebut sudah biasa kita makan.

Disediakan lah disitu singkong rebus, roti dan the panas, sangat sederhana makanan nya, tidak membutuhkan banyak pengeluaran. Serasa saja sangat nikmat sekali bisa mengikuti jurit mala mini dengan penuh ke asikan, dari rasa takut cemas gemetaran semua campur aduk. Namun sangat berkesan sekali.

Menikmati makanan yang sederhana dan disambut cerita dan masukan dari ustad-ustad dan para anggota TNI ini menghilangkan rasa kesal kita karena udah ada acara ini secara dadakan dimalam hari yang disertai hujan lebat samapi subuh.

Nah begitulah cerita pengalaman saya yang paling menegangkan di bangku kelas 2 tsanawiyah/2 SMP. Simak lagi yah untuk cerita pengalaman saya di bawah. Tentunya di laman web saya.

Semoga bermanfaat dan dapat di ambil hikmahnya cerita pendek saya ini untuk anda semua sob… maaf jika ada kata yang kurang pantas, saya ucapkan terima kasih sudah mengunjungi website saya ini. Jangan lupa saling mendoakan untuk kesuksesan.

Wassalaamualaikum wr.wb.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *