Jeritan Di Malam Hari (part2)

Pelan pelan turun kejurang, karena takut dan merinding gemetaran, saya terpeleset dan teriak, berenti karena ada potongan pohon, saya pegang dan bergegas berdiri, setelah itu jalan naik ke arah sungai pertama, disitu saya di berhentikan 2 orang bapak-bapak badan nya tinggi, membawa alat ntah apa yang ditaruh di pundaknya,

Bertanyalah ke dua nya kepada saya, “ kamu ngapain kesini? Ada perlu apa?”, saya jawab : “ mau ke kuburan, karena disuruh atasan saya”. Kemudian bertanya kembali bapak-bapak tadi: “ kenapa mau kekuburan? Siapa atasan kamu? Kamu belum izin memasuki kawasan sini!!!” , gertakan kerasnya ke saya, saya jawab dengan takut dan panic gemetaran semua tubuh saya,. : “ saya ada acara jerit malam, atasan saya, saya tidak kenal. Saya hanya dimentaati, dan maaf pak saya kalo saya tidak sopan dan langsung masuk tanpa izin”.

Kemudian setelah berbincang cemas, saya diperbolehkan jalan dan menyebrangi sungai, tepat pas saya mau naik ke atas dari sungai, ada suara seperti orang, saya teriak pocong!!! . benar ternyata dibawah ada orang hendak menarik kaki saya, saya langsung naik dan lari ke atas ke arah sawah atas, disitu jalan kira-kira 1 kilometer (KM).

Banyak jalan yang tidak beraturan, saat saya ditengah perjalanan saya menemui orang berdiri di tengah-tengah sawah memakai pakaian putih, dan memanggil saya :” nak, mau kemana? Saya ikut”. Sambil melambaikan tangan nya, saya langsung teriak pocong!!! Dan bergegas lari, yang saya bikin panic banget, dia mengejar saya, rasanya sangat lemas dan tak berdaya sama sekali, kejar-kejar an disitu.

Namun setelah itu, dia menghilang dan tidak kembali sunyi dan hanya hujan deras dna petir yang menemani saya pada saat itu, hanya mengucap tasbih, takbir, dan tahlil pada saat itu.

Berjalan sendiri hingga sampe ujung sawah ada sungai kuburan. Nah, di situ ada pohon beringin tepat diujung dan di situ juga tepat kita turun ke sungai, saya turun pelan-pelan. Tidak saya sadari kalo didepan saya ada poconga yang turun dari atas, saya hampir tidak kuat, hampir lemas tidak bisa jalan sama sekali.

Namun saya paksa teriak pocong!!!, dan saya menyebrangi sungai tersebut loncat dan berenang nepi. Langsung naik ke atas, kira kira 500 meter, baru saya sampai di pintu kuburan. Eiiiit,,, tapi sebelum sampai di pintu depan, saya setelah jalan turun arah kuburan tiba tiba muncul orang berbaju hitam rambut panjang, dan melata didepan saya, padahal pada saat itu jalan nya sangat sempit dan kecil, sedangkan dia melentang dan melata menuju ke arah saya, saya pun teriak pocong!!! Dia terdiam. Dan setelah itu saya melewati orang tersebut, orang tadi menarik kaki saya. Saya kaget dan teriak : lepas!!! Dan saya terjatuh berguling-guling, karena memang jalan dari sungai ke arah kuburan menurun.

Saya terbangun dan berlari, sesampai didepan kuburan. Lanjut cerita ada dibawah hehe.

Memasuki tempat peristirahatan mayat

www.pexels.com

Sesampai didepan pintu masuk makam, saya ber doa seperti yang nabi ajarakan jika masuk kuburan. Saya masuk pelan-pelan, terlihat jelas ada putih-putih berjumlah 4, saya sudah mengira mungkin itu pocong. Saya berjalan tidak melihat depan saya, tapi melihat pocong tersebut. Karena mungkin yang merencanakan orang ahli, saya baru berjalan beberapa langkah, saya terperosok didalam liang lahat yang sudah tergali dan dipenuhi air hujan.

Saya terperosok kedalam, ingin sekali saya teriak tapi tidak bisa, karena panik masuk ke dalam dan melihat pocong tadi jatuh dan berguling ke arah saya. Yah dengan dipaksa saya naik dengan susah payah. Setelah saya bisa naik ke atas, saya lari kearah ujung kuburan dan mencari kertas bolpen yang ditaruh dipeti yang terpayung i yang di tandai dengan lilin.

Senang rasanya setelah melewati beberapa rintangan, akhirnya saya menemukan peti tersebut. Saya isi sesuai perintah atasan saya untuk tanda tangan dan tulis nama. Saya lihat disitu, dari 18 orang yang berjalan ke kuburan, hanya 14orang yang berhasil menulis dan tanda tangan.

Sedang di awal sudah jelas satu persatu jalan, mungkin ada yang lari ke asrama dan tidak mengikuti. Kemudian saya keluar dari kuburan dan berlari kira-kira 500-an meter ke arah titik berkumpul pada awal. Dan menunggu teman lainya yang sedang diperjanan.

Seleseilah acara tersebut kira-kira jam 2an malam, kemudian dikumpulkan dan beranjak balik ke lapangan asrama.

Makan-makan dan Penutupan

www.pexels.com

Sesampainya di lapangan asrama, didata yang lulus tes jurit malam hanya 57 orang dari 70 an orang santri. Sebagai hadiah nya kita diberi makanan, makanan khas pedesaan dan sebenernya makana tersebut sudah biasa kita makan.

Disediakan lah disitu singkong rebus, roti dan the panas, sangat sederhana makanan nya, tidak membutuhkan banyak pengeluaran. Serasa saja sangat nikmat sekali bisa mengikuti jurit mala mini dengan penuh ke asikan, dari rasa takut cemas gemetaran semua campur aduk. Namun sangat berkesan sekali.

Menikmati makanan yang sederhana dan disambut cerita dan masukan dari ustad-ustad dan para anggota TNI ini menghilangkan rasa kesal kita karena udah ada acara ini secara dadakan dimalam hari yang disertai hujan lebat samapi subuh.

Nah begitulah cerita pengalaman saya yang paling menegangkan di bangku kelas 2 tsanawiyah/2 SMP. Simak lagi yah untuk cerita pengalaman saya di bawah. Tentunya di laman web saya.

Semoga bermanfaat dan dapat di ambil hikmahnya cerita pendek saya ini untuk anda semua sob… maaf jika ada kata yang kurang pantas, saya ucapkan terima kasih sudah mengunjungi website saya ini. Jangan lupa saling mendoakan untuk kesuksesan.

Wassalaamualaikum wr.wb.

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *